SEMOGA LANCAR, BILA TIDAK LANCAR ITU BIASA
December 7th, 2009 by adi-tentang-hidup
Oleh : Adi Iskandar
“Semoga lancar, bila tidak lancar itu biasa” sebuah nasihat dari Pak Teguh, Manager SDM PT. Tripatra Engineer & Constructor (PT.TPEC) ketika Saya dan kawan –kawan diterima bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang engineering (rekayasa), procurement (penyediaan barang), dan construction (kontruksi) fasilitas minyak dan gas bumi. Setelah dua tahun 6 bulan bekerja adalah kali kedua Saya dipercaya untuk menangani masalah kelistrikan pada sebuah projek fasilitas pengolahan minyak dan gas bumi yang sudah diserahterimakan PT.TPEC ke klient kami HESS INDONESIA PANGKAH INDONESIA (HIPL). Fasilitas tersebut masih dalam masa garansi selama 1 tahun. TPEC menugasi 8 orang engineer selama masa garansi projek tesebut. Masalah yang baru terjadi adalah rusaknya sebuah transformator penaik tegangan dari 400 volt ke 20000 volt. Transformator tersebut harus di copot (dismantling) dan dikirim ke Korea untuk diperbaiki. Masalah yang terbesar bahwa letak dari transformator tersebut berada diatas LP. Electrostatic treater, sebuah alat pemisah air dan minyak dan fasilitas pengolahan dalam keadaan running. Dalam keadaan ini potensi terjadi ledakan sangat besar bila metode kerja (work method) dan analisa bahaya pekerjaan (job safety analysis) tidak dipikirkan dengan baik.
80 % kemungkinan keberhasilan suatu pekerjaan terletak dari persiapannya. Maka 2 hari sebelum hari pelaksanaan, Saya sudah menyelesaikan adalah dokumen yang berhubungan dengan metode kerja (work method), analisa bahaya pekerjaan (job safety analysis), serta ijin – ijin sebagai langkah koordinasi dengan pihak operasi dari HIPL. Peralatan yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut meliputi alat berat (crane & fork lift) dan hand tool sudah dipersiapkan atau disewa. Subkontraktor, agen pengemasan (packing) serta agen ekspedisi sudah disewa dan siap pada hari pelaksanaan. Saya meminta mereka datang satu hari sebelumnya untuk mengikuti safety induction (pengenalan bahaya) dan 1 jam sebelum pelaksanaan pada hari pekerjaan. Saya bersyukur karena mulai dari pekerjaan pencopotan transformator, pengepakannya sampai barang tersebut dikirim ke Jakarta untuk selanjutnya dikirim ke Korea berjalan lancar.
“80 % kemungkinan keberhasilan suatu pekerjaan terletak dari persiapannya” adalah nasihat yang diberikan oleh Pak Palwoko kepada Saya saat pertama kali menangani masalah kelistrikan di fasilitas pengolahan minyak dan gas. Beliau adalah seorang Senior piping engineer yang bekerja diperusahaan yang sama dengan Saya. Pekerjaan pertama tersebut adalah menginstalasi sebuah Scott transformer ke sebuah lemari (cubicle) di sebuah gedung substation. Meski sudah membuat metode kerja (work method) dan analisa bahaya pekerjaan (job safety analysis) tetapi saya lengah dalam persiapan alat berat (fork lift) yang diperlukan. Saya saat itu berpikir bahwa divisi general support PT.TPEC sudah mempersiapkannya pada hari pelaksanaan. Alhasil pada hari pelaksanaan alat berat yang diperlukan secara mendadak kami pinjam dari HIPL. Saya beruntung karena HIPL mau meminjamkan alat berat yang mereka miliki, karena bila tidak pekerjaan tersebut akan mundur satu atau dua hari. Pelajaran yang dapat kuambil dari kegagalan menidentifikasi persiapan ini adalah selalu cek setiap item dari persiapan yang dibutuhkan meskipun itu adalah pekerjaan dari divisi lain.
Bercerita tentang 3 buah prestasi yang Saya anggap berarti dan kubanggakan, pertama adalah ketika Saya diterima oleh Universitas Diponegoro melalui jalur PMDK pada Jurusan Teknik Elektro. Saya yakin pasti persaingan untuk mendapatkan satu dari 25 kursi di Jurusan Teknik Elektro yang bisa diambil tampa jalur UMPTN tersebut sangat ketat. Prestasi kedua adalah ketika lulus seleksi untuk mengikuti Cooperative Education Program tahun 2005 yang diselenggarakan oleh PT. PLN Persero saat Saya masih berstatus mahasiswa. Untuk lulus seleksi Saya harus bersaing dengan mahasiswa lainnya melalui wawancara teknis dan psikologis. Dan yang terakhir adalah ketika diterima sebagai karyawan di PT.TPEC, sebuah prestasi yang sekali lagi berarti dan membanggakan karena untuk dapat diterima melalui tahap seleksi yang ketat. Sebuah wawancara di bidang keteknikan menjadi saringan yang sulit ditembus karena hasil akhirnya hanya 2 orang saja yang diterima sebagai karyawan yaitu Saya dan kawanku Roganda dari UGM (Universitas Gajah Mada).
Gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan. Rencana Saya dimasa depan adalah menjadi insan yang memiliki kemampuan teknis dan manajemen untuk bertanggung jawab pada posisi manajemen pada perusahaan tempat Saya bekerja. Apabila Saya memilik modal yang cukup, Saya berencana mendirikan sebuah perusahaan/ usaha yang dapat menyerap tenaga kerja.
Informasi yang Saya ingin sampaikan untuk bahan pertimbangan untuk Saya diterima dalam program “ The Future Leader 2” adalah bahwa Saya adalah pribadi yang bersikap proaktif, percaya diri dan memiliki kemauan yang keras untuk belajar.